Aku, Cinta
dan Malaikatku (sajak-sajak saza)
Teruntuk Bunda Tersayang :
Maafkan kesalahan ananda :(
Aku, Cinta, dan Malaikatku
1
Malam ini kau hadir lagi bersama keangkuhan diriku
Hanya senyum tanpa interupsi
Namun demi Cinta !!
Kudengar kicau riuh burung pipit surga dalam lemah suaramu
Kulihat jejak-jejak langkah kecil tertatih dalam letih matamu
Kurasakan gelora semesta dalam hangat senyummu
Kaulah Malaikatku ….
2
Bahagia dan kerajaannya adalah tasbih suci malaikatku di ujung ujung malam
Duka dan mahkotanya adalah haram dalam setiap tetes air matanya
Terus memintal benang benang emas dalam tenunan air sungai hijau
3
Malaikatku adalah harum bunga anggrek biru musim semiku
Tungku tungku pemanas dalam musim dinginku
Senandung rindu di musim gugurku
Dan bukanlah fatamorgana yang menipu musafir dimusim panasku
4
Namun demi Cinta,
Cinta adalah musim itu sendiri
Dan musim adalah waktu
Dan waktu seperti setan mengubah putih menjadi hitam
Menaburkan benih benih ilalang di padang rerumputan
Dan Malaikatku pun tertinggal di lembaran-lembaran lusuh
5
Hingga aku terbang dengan sayap sayap cupid
Berkelana di ratusan jiwa
Menghadirkan cinta tanpa Cinta
Dan sayap sayapku patah karena panah cintaku sendiri
6
Dalam redup pijar lilin
Malaikatku tertelungkup dengan tangan diwajahnya
Melepuhkan patung patung emas sepuhan
Mengirimkan sejuta kupu-kupu
Untuk membawaku kembali
7
Di lembaran-lembaran lusuh dan lilin yang tinggal sepenggal
Dalam riuhnya kicau burung pipit surga dan jejak jejak kecil
Kutemukan semesta berhenti dalam genggaman malaikatku
Tanpa musim tanpa waktu
8
Dan malam ini aku hadir lagi bersama malaikatku
Hanya kaku tanpa kata
Namun Demi Cinta!!
Aku akan mengerti ….
Malang, April 2003
Serenada Kematian
1
Sulur-sulur cinta telah mengikatku dalam nyanyian Calypso,
Tapi cinta adalah kematian untuk Matahari sebelum kau datang dan pergi
Seperti saat kau hadir di sungai-sungai, pepohonan dan pegunungan
Dan kutorehkan meteor di antara Cetus, Cassiopea dan Perseus
2
Kau tebarkan lili merah saga
Bersama bintang putih yang hadir di langitku
Dalam tetesan air mata hijau Pirene
Kau membunuh Anak-anakku
3
Pilar-pilar para raja adalah permainanmu
Hingga jukung tua membawamu pergi
Namun setiap malam kau selalu kembali
Mengisi anggur di setiap gelasku
Dan menidurkanku di rumah kuburmu
4
Hingga langit pecah dalam rintihanku
Malaikat-malaikat di surga menutup muka karena malu
Dan setan-setan bawah laut muncul ke permukaan
Dengan wajah serupa Putri tujuh rembulan
Membawa persik pelipur larah
Yang disematkan di atas ranjang Zaitun
5
Dan kulepaskan gelatik bersayap rajawali
Sebelum pesta perpisahan
Dan persik pelipur larah di atas meja kaca
Yang kutata di atas piring perak hingga malam menjelang
6
Kematianmu adalah kelahiranku
Dan sekuntum mawar takkan pernah berubah sekuntum melati
7
Kau datang seperti biasa
Di antara senja yang makin menghitam
Dengan gaun sewarna darah
Dan nyanyian sendu tentang burung burung api
Kau mendekat dan mencium bibirku dalam hangat
"O, Cinta, seandainya Bulan tak bermusim"
"Dan Matahari Tak kekal dalam cahayanya"
"Akan kulahirkan Bumi dan Bintang"
"Hingga kau bertahta dalam manisnya semesta"
8
Kupecahkan persik pelipur larah dengan gigiku
Tubuhku terasa dingin membeku
Dan Setan setan bawah laut muncul ke permukaan menagih janji jiwa yang luka
Kuteteskan air mata dalam senyum kebencian dan berkata,
"Aku tak pernah bisa membunuhmu"
"Walau kesempatan itu selalu ada bersamaku"
9
Perempuan itu tertawa dan terbang menuju Matahari
Menutupnya dengan tirai tirai Hitam tanpa celah
Dan Bumi Pun Berduka ....
Malang, April 2003
****
Janji cinta adalah elegi
Dalam perpisahan dan pertemuan kembali sepasang kekasih
Dan demi racun yang menidurkan Juliet
Aku takkan pernah kembali
****
GhulamMaafkan kesalahan ananda :(
Aku, Cinta, dan Malaikatku
1
Malam ini kau hadir lagi bersama keangkuhan diriku
Hanya senyum tanpa interupsi
Namun demi Cinta !!
Kudengar kicau riuh burung pipit surga dalam lemah suaramu
Kulihat jejak-jejak langkah kecil tertatih dalam letih matamu
Kurasakan gelora semesta dalam hangat senyummu
Kaulah Malaikatku ….
2
Bahagia dan kerajaannya adalah tasbih suci malaikatku di ujung ujung malam
Duka dan mahkotanya adalah haram dalam setiap tetes air matanya
Terus memintal benang benang emas dalam tenunan air sungai hijau
3
Malaikatku adalah harum bunga anggrek biru musim semiku
Tungku tungku pemanas dalam musim dinginku
Senandung rindu di musim gugurku
Dan bukanlah fatamorgana yang menipu musafir dimusim panasku
4
Namun demi Cinta,
Cinta adalah musim itu sendiri
Dan musim adalah waktu
Dan waktu seperti setan mengubah putih menjadi hitam
Menaburkan benih benih ilalang di padang rerumputan
Dan Malaikatku pun tertinggal di lembaran-lembaran lusuh
5
Hingga aku terbang dengan sayap sayap cupid
Berkelana di ratusan jiwa
Menghadirkan cinta tanpa Cinta
Dan sayap sayapku patah karena panah cintaku sendiri
6
Dalam redup pijar lilin
Malaikatku tertelungkup dengan tangan diwajahnya
Melepuhkan patung patung emas sepuhan
Mengirimkan sejuta kupu-kupu
Untuk membawaku kembali
7
Di lembaran-lembaran lusuh dan lilin yang tinggal sepenggal
Dalam riuhnya kicau burung pipit surga dan jejak jejak kecil
Kutemukan semesta berhenti dalam genggaman malaikatku
Tanpa musim tanpa waktu
8
Dan malam ini aku hadir lagi bersama malaikatku
Hanya kaku tanpa kata
Namun Demi Cinta!!
Aku akan mengerti ….
Malang, April 2003
Serenada Kematian
1
Sulur-sulur cinta telah mengikatku dalam nyanyian Calypso,
Tapi cinta adalah kematian untuk Matahari sebelum kau datang dan pergi
Seperti saat kau hadir di sungai-sungai, pepohonan dan pegunungan
Dan kutorehkan meteor di antara Cetus, Cassiopea dan Perseus
2
Kau tebarkan lili merah saga
Bersama bintang putih yang hadir di langitku
Dalam tetesan air mata hijau Pirene
Kau membunuh Anak-anakku
3
Pilar-pilar para raja adalah permainanmu
Hingga jukung tua membawamu pergi
Namun setiap malam kau selalu kembali
Mengisi anggur di setiap gelasku
Dan menidurkanku di rumah kuburmu
4
Hingga langit pecah dalam rintihanku
Malaikat-malaikat di surga menutup muka karena malu
Dan setan-setan bawah laut muncul ke permukaan
Dengan wajah serupa Putri tujuh rembulan
Membawa persik pelipur larah
Yang disematkan di atas ranjang Zaitun
5
Dan kulepaskan gelatik bersayap rajawali
Sebelum pesta perpisahan
Dan persik pelipur larah di atas meja kaca
Yang kutata di atas piring perak hingga malam menjelang
6
Kematianmu adalah kelahiranku
Dan sekuntum mawar takkan pernah berubah sekuntum melati
7
Kau datang seperti biasa
Di antara senja yang makin menghitam
Dengan gaun sewarna darah
Dan nyanyian sendu tentang burung burung api
Kau mendekat dan mencium bibirku dalam hangat
"O, Cinta, seandainya Bulan tak bermusim"
"Dan Matahari Tak kekal dalam cahayanya"
"Akan kulahirkan Bumi dan Bintang"
"Hingga kau bertahta dalam manisnya semesta"
8
Kupecahkan persik pelipur larah dengan gigiku
Tubuhku terasa dingin membeku
Dan Setan setan bawah laut muncul ke permukaan menagih janji jiwa yang luka
Kuteteskan air mata dalam senyum kebencian dan berkata,
"Aku tak pernah bisa membunuhmu"
"Walau kesempatan itu selalu ada bersamaku"
9
Perempuan itu tertawa dan terbang menuju Matahari
Menutupnya dengan tirai tirai Hitam tanpa celah
Dan Bumi Pun Berduka ....
Malang, April 2003
****
Janji cinta adalah elegi
Dalam perpisahan dan pertemuan kembali sepasang kekasih
Dan demi racun yang menidurkan Juliet
Aku takkan pernah kembali
****
Teruntuk A.H
1
Dia berlari membawa mimpi mimpi para Nabi
Di antara kota kota berbulan sabit dan gemintang
Hingga seorang pemuda menangis dalam pangkuannya, lalu berkata:
"O, sesungguhnya cinta tiada bertepi maka Laknatlah aku dalam cinta"
2
Dia melihat bayang bayang masa lalunya di wajah sang pemuda
Penyembah berhala yang dipenggal kepalanya,
Para parsis yang terusir dari tanahnya,
Yahudi yahudi yang terisak ditembok tembok ratapan
Dan orang orang yang merindukan Ali di pojok Mashhad dan Qom
3
Lelaki itu memberikan kedua tangannya
Menunjukkan garis garis tangan yang terpecah dan berkata,
"Akulah yang terasing dalam cintaku maka selamatkanlah diriku dari siksa ini"
4
Namun angin membawanya pergi tanpa sempat berbicara pada sang pemuda
Ke kandang kandang babi yang berlumpur mutiara
Dan penggembala yang tertunduk sedih
Menggoreskan lintasan komet yang jatuh di gurun sahara
5
Cahaya adalah cahaya
meski kau menutupnya dengan tabir kegelapan
6
Di antara malam dan siang bayangan pemuda itu muncul di meja kamarnya
Seperti menusukkan jarum ke dadanya
Hingga air mata bening jatuh melarutkan bayangan lelaki itu
Dalam pakaian usang perjalanan
7
Disela-sela rintik hujan hijau dia berlari menuju kota kota tiga abad
Berharap cahaya akan membawa cinta pergi
Sebelum musim dingin yang menghebat tahun ini
Namun sang pemuda tak kunjung datang menemui
8
Diletakkan tangannya di tembok tembok kota berbulan sabit dan gemintang
dalam malam malam musim dingin, lalu berteriak memanggil nama sang pemuda :
"Ya Abbas Hussaini"
Hanya risau dan gema suara suara para shi'ah
yang terbunuh di seluruh dunia
Malang, May 2003
Chuck Number 151/WB
Post Office Dokota Tehsel mailsi
District Vehari.


